{"id":971,"date":"2020-03-19T05:46:00","date_gmt":"2020-03-18T22:46:00","guid":{"rendered":"http:\/\/kuliah.septiana.info\/?p=971"},"modified":"2020-03-22T05:48:05","modified_gmt":"2020-03-21T22:48:05","slug":"belajar-mengajar-dan-strategi-belajar-mengajar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/?p=971","title":{"rendered":"BELAJAR, MENGAJAR DAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR"},"content":{"rendered":"<div style=text-align:left;><a class=\"wpptopdfenh\" target=\"_blank\" rel=\"noindex,nofollow\" href=\"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/?p=971&#038;format=pdf\" title=\"Download PDF\"><img decoding=\"async\" alt=\"Download PDF\" src=\"http:\/\/kuliah.septiana.my.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/pdf2.png\"><\/a><\/div>\n<p><strong>BELAJAR,\nMENGAJAR<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>DAN\nSTRATEGI BELAJAR MENGAJAR<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Belajar\ndan mengajar merupakan suatu kegiatan yang berlangsung bersamaan. Belajar\nmerupakan upaya yang dilakukan seseorang agar memperoleh &#8220;sesuatu&#8221;\nsedangkan mengajar adalah suatu kegiatan yang mengupayakan terjadinya proses\nbelajar. Seorang guru yang akan mengajar harus mengenal berbagai kiat atau\nstrategi dalam &#8220;membelajarkan&#8221; siswa sehingga tujuan yang diharapkan\ndapat tercapai.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Belajar<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Beberapa ahli telah menjelaskan pengertian belajar dengan mengemukakan pandangan mereka masing-masing\ndalam mendefinisikan belajar. Menurut Mois L. Bigge, \u201cbelajar adalah perubahan\nyang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara genetis\u201d\n(Darsono, M. 2002:3). Sedangkan menurut James O. Whittaker, \u201cbelajar\ndidefinisikan sebagai proses yang menimbulkan atau merubah perilaku melalui\nlatihan atau pengalaman\u201d (Darsono, M. 2002:4). Dari beberapa pengertian\nmengenai belajar, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pada dasarnya belajar merupakan suatu kegiatan\nyang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku siswa yang menetap dan\ntidak diwariskan secara genetis sebagai hasil pengalaman-pengalaman. Teori\nbelajar yang mendasari penelitian ini adalah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Teori Belajar Konstruktivisme<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Menurut para penganut konstruktivisme,\npengetahuan dibina secara aktif oleh seseorang yang berpikir. Seseorang tidak\nakan menyerap pengetahuan dengan pasif. Untuk membangun suatu pengetahuan baru,\npeserta didik akan menyesuaikan informasi baru atau pengetahuan yang\ndisampaikan guru dengan pengetahuan atau pengalaman yang dimilikinya melalui\ninteraksi sosial dengan peserta didik lain atau dengan gurunya. Guru tidak akan\nmampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan\npengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme ini\nadalah ide. Siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi\nkompleks ke situasi lain. Dengan dasar itu, maka belajar dan pembelajaran harus\ndikemas menjadi proses mengkonstruksi, bukan menerima pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pandangan kontruktivis dalam\npembelajaran mengatakan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan\nstrateginya sendiri dalam belajar secara sadar. Peran&nbsp; guru adalah membimbing siswa ke tingkat\npengetahuan yang lebih tinggi. Secara filosofis, menurut teori konstruktivisme\n\u201cbelajar adalah membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian\nhasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak tiba-tiba, karena\npengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap\ndiambil atau diingat\u201d (Slavin, 1995:229).<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam teori\nkonstruktivisme peserta didik harus menemukan sendiri dan memecahkan informasi\nbaru dengan aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai\nlagi. Sesuai dengan disiplin ilmu biologi dimana dalam hal ini perkembangan dalam dunia biologi sangat dinamis\nmaka kondisi seperti ini mutlak diperlukan. Pandangan konstruktivisme\nmenyatakan bahwa peserta didik diberi kesempatan agar menggunakan suatu\nstrategi sendiri dalam belajar secara sendiri dan pendidikan dalam hal ini\nmembimbing peserta didik ke tingkat pengetahuan yang mengarah lebih tinggi.\nOleh karena itu, agar peserta didik benar-benar memahami mereka harus bekerja\nkeras untuk memecahkan masalah dan kesulitan yang ada dengan ide-ide dan\nkemampuannya.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Teori Belajar Sosial<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Teori belajar sosial merupakan\nperluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional. Dalam pandangan belajar\nsosial \u201cmanusia itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam, dan juga\ntidak dipukul oleh stimulus-stimulus lingkungan. Tetapi, fungsi psikologi\nditerangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari\ndeterminan-determinan pribadi dan determinan-determinan lingkungan\u201d. (Bandura\ndalam Ratna Wilis Dahar, 1989:27)<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Respons-respons kognitif kita terhadap\nperilaku kita sendiri mengizinkan kita untuk mengatur perilaku kita sendiri.\nDengan mengamati, kita mengumpulkan data tentang respons-respons kita. Melalui\nstandar-standar penampilan yang sudah terinternalisasi, kerap kali dipelajari\nmelalui observasi, kita pertimbangkan perilaku kita. Dengan memberi hadiah atau\nmenghukum kita sendiri, kita dapat mengendalikan perilaku kita secara efektif.\nKita tidak perlu dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan lingkungan atau\nkeinginan-keinginan yang datang dari dalam. Kita dapat belajar menjadi manusia\nsosial yang berkepribadian. Dengan menerapkan gagasan-gagasan dari teori\nbelajar sosial pada diri kita sendiri, kita dapat menjadi guru dan siswa yang\nlebih baik. <\/p>\n\n\n\n<p>Implikasi dari teori belajar sosial dalam pembelajaran TAI dan GI\ndiharapkan siswa dapat bekerja sama satu sama lainnya berdiskusi dan berdebat,\nmenilai kemampuan pengetahuan dan mengisi kekurangan anggota lainnya. Bila\ndiorganisasikan dengan tepat, siswa dapat bekerja sama dengan yang lainnya\nuntuk memastikan bahwa setiap siswa dalam kelompok tersebut telah menguasai\nkonsep yang telah diajarkan. Hal ini akan menumbuhkan realisasi bahwa siswa\nmembutuhkan belajar dan berpikir untuk memecahkan masalah dan mengaplikasikan\npengetahuan dan ketrampilannya.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Teori Belajar Motivasi<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dalam pelaksanaan belajar, setiap siswa yang akan\nbelajar untuk dapat mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi keingintahuan\ntentang suatu pokok bahasan tertentu maka perlu diadakannya suatu motivasi.\n\u201cSiswa (yang belajar) harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa\nbelajar akan memperoleh hadiah\u201d (Ratna, 1989:141) Motivasi yang diberikan dapat\nberupa berbagai hal, diantaranya adalah dengan pemberian hadiah, pemberian\nharapan kedepan akan hasil yang didapatkan setelah mempelajari sesuatu.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Teori Belajar Komunikasi<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Belajar dalam komunikasi didapatkan dari suatu hasil pengalaman, sesuai\ndengan teori belajar bahwa \u201cbelajar adalah sebagai suatu hasil pengalaman\u201d\n(Ratna, 1989:11) pengalaman yang dimaksud adalah siswa memperhatikan contoh\nyang diberikan oleh guru \/ wirausahawan di sekitar lingkungannya kemudian\nmenggunakannya dalam lingkup kecil yaitu pada teman dekatnya dan diharapkan\nkepada lingkungan masyarakat luas nantinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak faktor yang dapat mempengaruhi\nprestasi belajar seorang siswa, diantaranya adalah faktor yang berasal dari\ndalam siswa itu sendiri atau faktor internal dan yang berasal dari luar atau\nfaktor eksternal. \u201cYang termasuk dalam faktor internal yaitu (1) kondisi fisik, adalah kondisi yang terjadi dari dalam\ndiri individu itu sendiri dan nampak dari luar serta identik dengan faktor\nkesehatan organ tubuh, (2) kondisi psikis, adalah kondisi yang dapat dimengerti\ndan diketahui dari evaluasi, seperti kecerdasan bakat, minat, emosi dan\nkemampuan bersosialisasi\u201d (Anni, dkk, 2004: 11).<\/p>\n\n\n\n<p>Faktor yang berasal dari luar individu\natau faktor eksternal meliputi (1) variasi dan derajat kesulitan materi\n(stimulus) yang dipelajari (direspon), (2) tempat belajar, (3) iklim, (4) suasana lingkungan, (5) budaya belajar masyarakat (Anni, dkk,\n2004: 12). Pembelajaran biologi berbasis <em>life skill<\/em> merupakan metode pembelajaran yang mengedepankan\npengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan di masyarakat. Sistem\npembelajaran ini tidak sekedar menuntut siswa dengan teori-teori, hitungan, serta\nhafalan, namun disela-sela itu juga memperkenalkan siswa dengan praktikum\nmaupun demonstrasi biologi yang menghibur dan tetap edukatif.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Perkembangan Intelektual Menurut Piaget<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Piaget dalam berpendapat bahwa:<\/p>\n\n\n\n<p>Ada 2 proses yang terjadi dalam perkembangan dan pertumbuhan kognitif\nanak yaitu 1) proses <em>assimilation<\/em>,\ndalam proses ini menyesuaikan atau mencocokkan informasi yang baru dengan apa\nyang telah diketahui, 2) proses <em>accommodation<\/em>,\nanak menyusun dan membangun kembali atau mengubah apa yang telah diketahui\nsebelumnya sehingga informasi yang baru itu dapat disesuaikan dengan lebih\nbaik. Jadi perkembangan kognitif adalah hasil dari penggabungan <em>assimilation<\/em> dengan <em>accommodation<\/em><em> <\/em>(Sagala,\nsyaiful. 2007:24)&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Ratna Wilis (1989:18) berpendapat bahwa, \u201cAdaptasi\nmerupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi\u201d. Apabila dengan\nproses asimilasi tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan maka terjadi\nketidaksetimbangan kemudian terjadi akomodasi sehingga struktur yang sudah ada\nmengalami perubahan atau struktur baru timbul. Menurut\nPiaget dalam Sagala,syaiful (2007) menyatakan bahwa, \u201cStruktur kognitif\ndapat berubah bila individu berhadapan dengan hal baru yang tidak dapat\ndiorganisasikan kedalam struktur yang telah ada\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Piaget\n(dalam Bell, 1981:59) berpendapat bahwa:<\/p>\n\n\n\n<p>Proses berpikir manusia merupakan suatu\nperkembangan yang bertahap dari berpiki, \u201cintelektual\nkongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan, yaitu 1) Periode Sensori Motor (0 \u2013 2 tahun).\nKarateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi\nlangsung dari rangsangan. 2) Periode\nPra-operasional (2 \u2013 7 tahun). Operasi yang dimaksud di sini adalah\nsuatu proses berpikir atau logik, dan merupakan aktivitas mental, bukan\naktivitas sensori motor. Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak\ndidasarkan kepada keputusan yang logis melainkan\ndidasarkan kepada keputusan yang dapat dilihat seketika. Periode ini sering\ndisebut juga periode pemberian simbol, misalnya suatu benda diberi nama\n(simbol). 3) Periode operasi kongkret\n(7 \u2013 12) tahun. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan\nmenjadi operasional. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir\nlogiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek. Operasi kongkret\nhanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman\nempirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil\nkesimpulan yang logis dari pengalaman-pengalaman yang khusus. 4) Periode Operasi Formal (&gt; 12 tahun).\nPada periode ini anak tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda\/ peristiwa\nkonkret karena anak mempunyai kemampuan berpikir abstrak. <\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Flavell dalam (Ratna Wilis\n1989:20) berpendapat\nbahwa, \u201cperiode operasi formal ini disebut juga periode\noperasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkembangan\nintelektual\u201d. Anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan\nlebih banyak simbul atau gagasan dalam cara berpikir. Anak sudah dapat\nmengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik. Anak\nmampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada\nanak yang masih dalam tahap periode operasi kongkret. <\/p>\n\n\n\n<p>Implikasi teori piaget adalah\npenerapan metode pembelajaran TAI dan GI sesuai untuk siswa SMA yang termasuk\nperiode operasi formal karena menuntut kemampuan berpikir secara abstrak,\nmenalar secara logis, mengumpulkan informasi dan manarik kesimpulan dari\ninformasi yang tersedia. Cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda\nberdasarkan kematangan intelektual anak. Belajar akan\nlebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta\ndidik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen\ndengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan\ndibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. <\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Pembelajaran<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Menurut Darsono, M ( 2002:24), \u201cPembelajaran adalah suatu kegiatan yang\ndilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke\narah yang lebih baik\u201d. Selain\nitu Dimyati (2002:142) berpendapat bahwa, \u201cpembelajaran adalah proses yang\ndiselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana\nmemperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari beberapa\npengertian mengenai pembelajaran di atas, maka pembelajaran diartikan sebagai\nsuatu kegiatan yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa,\nsehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Banyak faktor yang\ndapat mempengaruhi hasil belajar seorang siswa, diantaranya adalah faktor yang\nberasal dari dalam siswa itu sendiri atau faktor internal dan yang berasal dari\nluar atau faktor eksternal. Yang termasuk dalam faktor internal yaitu (1)\nkondisi fisik, adalah kondisi yang terjadi dari dalam diri individu itu sendiri\ndan nampak dari luar serta identik dengan faktor kesehatan organ tubuh; (2)\nkondisi psikis, adalah kondisi yang dapat dimengerti dan diketahui dari\nevaluasi, seperti kecerdasan bakat, minat, emosi dan kemampuan bersosialisasi.\nFaktor yang berasal dari luar individu atau faktor eksternal meliputi (1)\nvariasi dan derajat kesulitan materi (stimulus) yang dipelajari (direspon); (2)\ntempat belajar; (3) iklim; (4) suasana lingkungan; (5) budaya belajar\nmasyarakat.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Mengajar<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Mengajar merupakan suatu kegiatan yang tak dapat dipisahkan dari kegiatan\nbelajar. Ada beberapa pengartian mengajar, diantaranya adalah bahwa mengajar\nmerupakan upaya menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Atau dapat dikatakan\nbahwa mengajar merupakan kegiatan memberikan suatu pengalaman, pengetahuan\nataupun ilmu kepada seseorang yang belajar kepada pengajar. Oleh paham modern\nberpendapat bahwa mengajar merupakan aktivitas mengorganisasi atau mengatur\nlingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan siswa sehingga terjadi\nproses belajar.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam mengajar, seorang guru dituntut untuk berhasil mengajarkan sesuatu\nkepada siswanya. Adapun keberhasilan mengajar dari seorang guru dapat diukur\ndari keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar serta dari hasil belajar\ndari siswa. Menurut JL. Marsell dalam (Saptorini,2004:30) berpendapat bahwa: <\/p>\n\n\n\n<p>Agar berhasil\nmengajar seorang guru harus memperhatikan prinsip-prinsip (1) prinsip konteks,\nartinya guru sebaiknya menyampaikan materi hendaknya dapat menciptakan\nhubungan-hubungan antara materi yang dibahas, untuk dapat digunakan sumber-sumber\nbelajar, seperti buku, surat kabar, media elektronik, maupun lingkungan, dengan\ndemikian siswa dapat memahami konteks dari materi bahasan dalam hubungannya\ndengan pengetahuan-pengetahuan lain; (2) prinsip fokus, artinya dalam membahas\nsuatu materi, hendaknya guru menetapkan pokok persoalan yang menjadi pusat\npembahasan, pusat perhatian siswa sehingga pembicaraan tidak melebar keluar\ndari inti persoalan. Dalam prakteknya, prinsip konteks dan fokus hendaknya\ndigunakan secara bersamaan agar saling melengkapi dengan memperhatikan proporsi\nmasing-masing; (3) prinsip urutan (sekuen), artinya dalam mengatur urutan\nmateri pelajaran, hendaknya guru mengurutkan dari hal yang termudah ke yang\ntersulit, dari konkrit ke abstrak, materi yang menjadi prasyarat materi lain\nhendaknya dipahamkan kepada murid terlebih dulu sebelum ke materi selanjutnya;\n(4) prinsip evaluasi, artinya dalam mengajar guru hendaknya mengintegrasikan\nevaluasi dalam kegiatan belajar mengajar, karena kegiatan ini berfungsi untuk\nmempertinggi efektivitas belajar, memotivasi siswa untuk lebih berprestasi (5)\nprinsip individualisasi, artinya perbedaan-perbedaan yang ada pada diri\nmasing-masing siswa hendaknya diperhatikan oleh guru, diantaranya tingkat\nkecerdasan (IQ), minat, perhatian, dan lain sebagainya. Maka perhatian guru\ndapat diberikan pada saat siswa mengerjakan soal dan lain-lain; (6) prinsip\nsosialisasi, artinya diciptakannya suasana belajar dimana terjadi saling\nkerjasama antar siswa, kerjasama dalam mengatasi problema, menciptakan iklim\npersaingan yang sehat dalam mencapai tujuan.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Interaksi dalam Belajar-Mengajar<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Mulyati Arifin (2000:8) menyatakan bahwa, \u201cproses belajar-mengajar\nmerupakan suatu proses interaksi antara siswa dengan guru dalam kegiatan\npendidikan\u201d. Dalam kegiatan proses belajar-mengajar ada kegiatan belajar yang\ndilakukan siswa dan ada kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan guru. Kedua\nkegiatan ini tidak berlangsung sendiri-sendiri, melainkan berlangsung secara\nbersama-sama pada waktu yang sama, sehingga terjadi adanya interaksi komunikasi\naktif antara siswa dengan guru.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak semua interaksi yang terjadi di sekolah merupakan interaksi\nedukatif. Menurut Winarno Surakhmad dalam (Saptorini, 2004:27), \u201cinteraksi\nedukatif biasanya berciri (1) ada tujuan yang akan dicapai; (2) ada bahan yang\nmenjadi isi interaksi; (3) ada siswa dan guru yang berinteraksi; (4) ada\nmetode; (5) ada situasi yang memungkinkan proses interaksi berlangsung; (6) ada\npenilaian terhadap hasil interaksi\u201d.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Prestasi Belajar<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Prestasi belajar merupakan hasil penlaian\nseseorang yang telah melakukan aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek\nperubahan perilaku tersebut tergantung pada yang dipelajari oleh pembelajar.\n\u201cJika pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan\nperilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep\u201d (Anni, dkk, 2004: 4). <\/p>\n\n\n\n<p>Prestasi belajar adalah\nkemampuan-kemampuan&nbsp; yang dimiliki siswa\nsetelah ia menerima pengalaman belajarnya. Benyamin Bloom dalam Nana Sudjana\n(1990: 22) membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif,\nberkenaan dengan hasil belajar intelektual; ranah afektif, berkenaan dengan\nsikap; ranah psikomotorik, berkenaan dengan ketrampilan dan kemampuan\nbertindak. Untuk memberikan informasi mengenai tingkat penguasaan materi yang\ndiberikan selama proses belajar mengajar berlangsung digunakan alat ukur berupa\ntes dalam suatu proses evaluasi.<\/p>\n<div style=text-align:left;><a class=\"wpptopdfenh\" target=\"_blank\" rel=\"noindex,nofollow\" href=\"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/?p=971&#038;format=pdf\" title=\"Download PDF\"><img decoding=\"async\" alt=\"Download PDF\" src=\"http:\/\/kuliah.septiana.my.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/pdf2.png\"><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BELAJAR, MENGAJAR DAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR Belajar dan mengajar merupakan suatu kegiatan yang berlangsung bersamaan. Belajar merupakan upaya yang dilakukan seseorang agar memperoleh &#8220;sesuatu&#8221; sedangkan mengajar adalah suatu kegiatan yang mengupayakan terjadinya proses belajar. Seorang guru yang akan mengajar harus mengenal berbagai kiat atau strategi dalam &#8220;membelajarkan&#8221; siswa sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Belajar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10,71],"class_list":["post-971","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-daspen","tag-daspen-2","tag-materi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/971","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=971"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/971\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":972,"href":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/971\/revisions\/972"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kuliah.septiana.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}